Pages

Senin, 15 Oktober 2012

PENALARAN DEDUKTIF

Penalaran Deduktif

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

Metode deduktif        
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Contoh penalaran deduktif :
Semua makhluk hidup pasti butuh oksigen (premis mayor )
Tumbuhan adalah makhluk hidup (premis minor)
Tumbuhan pasti butuh oksigen (kesimpulan)
Setiap penalaran deduktif pasti tergantung pada kebenaran premis – premisnya. Jika premisnya salah maka kesimpulan yang di hasilkan pasti salah.
Terdapat 2 macam corak berfikir Penalaran Deduktif , yaitu :
  • Silogisme
  • Entimen


Silogisme
·         Silogisme adalah suatu pengambilan kesimpulan, dari dua macam keputusan (yang mengandung unsur yang sama, dan salah satunya harus universal) suatu keputusan yang ketiga, yang kebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya.
·         Silogisme dapat direpresentasikan ke dalam bentuk aturan JIKA…MAKA… (IF…THEN…), contoh :
·         premis 1 : saya belajar, saya lulus ujian
·         premis 2 :saya belajar
·         konklusi : saya lulus ujian
Macam – macam silogisme :
  • Silogisme Katagorial
  • Silogisme Hipotetis
  • Silogisme Disjungtif
A. Silogisme kategorial

Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.
·         Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu:
·         Premis umum : Premis Mayor (My)
·         Premis khusus : Premis Minor (Mn)
·         Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)
·         Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor. 

Contohnya :
·         Premis Mayor : Semua mahasiswa mempunyai ijazah SMA
·         Premis Minor : Nadira tidak memiliki ijazah SMA
·         Kesimpulan : Nadira bukan mahasiswa

B.Silogisme Hipotesis
Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, bila simpulannya juga menolak berarti konsekuen.

         Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik:
1. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian anteseden. Contoh : jika hujan saya naik becak. Sekarang hujan, Jadi saya naik becak.

2. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuen. Contoh : bila hujan, bumi akan basah. Sekarang bumi telah basah. Jadi hujan telah turun.

3. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari anteseden. Contohnya:  Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka
kegelisahan akan timbul. Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa, Jadi kegelisahan tidak akan timbul.

4. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuen. Contohnya:  Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah Pihak penguasa tidak gelisah. Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.



C. Silogisme Disjungtif

Silogisme Disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif sedangkan premis minornya kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor
·         Terdapat 2 macam silogisme disjungtif, yaitu :
1. Silogisme Disjungtif dalam arti sempit, dan
2. Silogisme Disjungtif dalam arti luas
1. Silogisme Disjungtif dalam arti sempit yaitu konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid.
2. Silogisme Disjungtif dalam arti luas, kebenaran konklusinya adalah sebagai berikut :
a. Bila premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar)
Contoh :
Rizki menjadi guru atau pelaut.
la adalah guru.
Jadi bukan pelaut
Rizki menjadi guru atau pelaut.
la adalah pelaut.
Jadi bukan guru

b. Bila premis minor mengingkari salah satu konklusinya tidak sah (salah)
Contoh :
Penjahat itu lari ke Surabaya atau ke Yogya.
Ternyata tidak lari ke Yogya.
Jadi ia lari ke Surabaya. (Bisa jadi ia lari ke kota lain).
Rifki menjadi guru atau pelaut.
Ternyata ia bukan pelaut.
Jadi ia guru. (Bisa jadi ia seorang pedagang)

Entimen
silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
·         Contoh Entimen :
·         Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.
·         Kalimat di atas dapat dipenggal menjadi dua:
·         a. menipu adalah dosa
·         b. karena (menipu) merugikan orang lain. 

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar